PIAGAM
GUMI SASAK : JIKA BUKAN KITA YANG MEMPERJUANGKAN, SIAPA LAGI ?
Piagam gumi sasak
merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh budaya yang ada di
Lombok untuk mengembalikan dan melestarikan serta menjaga kebudayaan, adat
istiadat yang ada di Lombok khususnya suku Sasak. Pada masa sekarang ini banyak
kebudayaan-kebudayaan luar yang telah masuk ke wilayah Sasak dan hal tersebut
membuat kebudayaan yang ada di daerah Sasak menjadi terkontaminasi dengan
virus-virus budaya dari luar. Budaya-budaya
saat ini sudah tidak mencerminkan lagi bagaimana budaya Sasak yang sebenarnya.Menurut
Bapak Murahim S. Pd., M. Pd.Pembentukan piagam gumi sasak ini dilatar belakangi
karena munculnya ketidakjelasan kesejarahan sasak yang sudah sangat melenceng
dari kebudayaan yang terdapat pada suku Sasak yang sebenarnya. Melihat kondisi
yang seperti ini para budayawan sasak merasa tergugah dan merasa bertanggung
jawab untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang terjadi dan mengembalikan jati
diri kebudayaan bangsa Sasak itu sendiri. Dengan menggandeng tokoh-tokoh
budaya, tokoh keagamaan, tokoh adat dan lainnya diharapkan budaya dan sejarah Sasak dapat kembali baik dan
menjadi kokoh sehingga tidak dapat diobrak-abrik lagi dengan alasan apapun. Piagam
gumi sasak yang dibacakan pertama kali pada tanggal 25 Desember 2015 diadakan
untuk memperbaiki budaya yang sudah melenceng. Bagaimana budaya bangsa sasak
kembali baik seperti sedia kala. Agar masyarakat sasak khususnya para generasi muda bangsa
sasak dapat mengenali bagaimana budaya yang terdapat pada bangsa sasak yang
sebenarnya.
Oleh karena itu
sebagai generasi muda kita bertanggung jawab untuk menjaga, meluruskan dan
melestarikan kebudayaan yang terdapat dalam bangsa Sasak. Seperti yang kita
tahu banyak anak-anak muda yang melakukan hal-hal negative pada saat adanya
acara adat. Misalnya, pada ritual nyongkolan banyak anak muda yang menjadikan ritual
nyongkolan yang begitu sakral jadi ajang untuk mabuk-mabukkan. Hal tersebut yang
membuat ritual adat kita yang baik menjadi tercoreng. Ini adalah tanggung jawab
kita sebagai bangsa Sasak untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan yang kita
miliki, jika bukan kita siapa lagi ?
Berikut isi dari piagam gumi sasak yang telah
dibacakan :
Piagam
Gumi Sasak
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak
adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi
mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah
kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangaa Sasak
yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang
terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah
bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang
menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai
catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan
sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung hingga saat
ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan
perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah
membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak di antara
bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah
bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam
Gumi Sasak sebagai berikut.
1. Berjuang bersama
menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan
budaya Sasak.
2. Berjuang bersama
memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar
terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh
budaya Sasak.
3. Berjuang bersama
menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang
membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas.
4. Berjuang bersama
membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk
menghadapi tantangan peradaban masa depan.
5. Berjuang bersama
dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam
bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal / 1437H.
26 Desember 2015.
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu
Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq
Windia M.Si
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz
MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri,
M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M.
Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik
M.Hum.
9. Drs. H. A. Muhit
Ellepaki, M. Sc.,
10. Dr. H. Sudirman
M.Pd.
11. Dr. HL., Agus
Fathurrahman
12. Mundzirin S.H,

